Berita Daerah
HELLO PAK BUPATI, Lautan Sampah Menyambut Di Dermaga BOM
Lampung Selatan, www.beritaindonesia.org – Bukan debur ombak yang lebih dulu menyambut pengunjung Dermaga Bom Kalianda. Bukan pula semilir angin pantai yang menjadi buah bibir. Kali ini, yang ramai diperbincangkan justru hamparan sampah yang mengapung dan menumpuk di tepian dermaga.
Melalui media sosial, seorang netizen melontarkan kalimat sederhana yang terasa seperti alarm bagi pemerintah daerah.
> “Hallo Pak Bupati, Dermaga Bom Kalianda jadi lautan sampah.”
Kalimat itu singkat, tetapi menggambarkan kegelisahan yang lebih besar. Foto yang beredar menunjukkan plastik, limbah rumah tangga, dan berbagai jenis sampah memenuhi saluran air di kawasan yang selama ini dipromosikan sebagai salah satu ikon wisata Kabupaten Lampung Selatan.
Pemandangan tersebut menghadirkan ironi. Di satu sisi, Pemerintah Kabupaten Lampung Selatan gencar menggaungkan Gerakan ABRI (Asri, Bersih, Rapi, dan Indah), Jumat Bersih, Zero Waste, hingga Gema HELAU sebagai simbol komitmen menjaga lingkungan. Di sisi lain, publik justru disuguhi potret yang seolah berkata bahwa sampah masih lebih cepat datang daripada solusi.
Satirnya, slogan kebersihan terdengar nyaring dari podium-podium resmi, sementara di Dermaga Bom, sampah seperti mendapat ruang VIP untuk bertahan. Seakan-akan, yang paling konsisten bukan gerakan bersihnya, melainkan tumpukan sampahnya.
Bagi masyarakat, persoalan ini bukan sekadar soal estetika. Dermaga Bom adalah wajah Kalianda. Ketika wajah itu dipenuhi sampah, yang tercoreng bukan hanya keindahan pantai, tetapi juga kepercayaan publik terhadap efektivitas berbagai program yang selama ini digaungkan.
Tentu, persoalan sampah tidak dapat sepenuhnya dibebankan kepada pemerintah. Masih adanya oknum masyarakat yang membuang sampah sembarangan menjadi bagian dari akar masalah. Namun, publik juga berharap pemerintah hadir melalui pengelolaan yang konsisten, pengangkutan sampah yang rutin, penyediaan fasilitas yang memadai, serta penegakan aturan yang tidak berhenti di atas kertas.
Media sosial hari ini telah menjadi “ruang sidang” masyarakat. Ketika keluhan disampaikan secara terbuka, sesungguhnya yang sedang diminta bukan sekadar perhatian, melainkan tindakan nyata.
Jika kondisi ini terus dibiarkan, Dermaga Bom dikhawatirkan tidak lagi dikenang sebagai destinasi wisata pesisir yang membanggakan, melainkan sebagai monumen bisu yang mengingatkan bahwa program kebersihan bisa kehilangan makna ketika realitas di lapangan berbicara sebaliknya.
Kini masyarakat menunggu. Apakah “lautan sampah” ini akan segera surut oleh kerja nyata, atau justru menjadi ombak kritik yang terus menghantam kepercayaan publik?
Berita ini disusun berdasarkan dokumentasi yang beredar di media sosial serta informasi mengenai program kebersihan Pemerintah Kabupaten Lampung Selatan. Beritaindonesia. org menjunjung tinggi Kode Etik Jurnalistik, asas keberimbangan, dan membuka ruang hak jawab bagi pihak-pihak terkait.
